Pages

Saturday, February 3, 2018

Tidak Terasa

 
Hari pertama masuk sebagai pengajar rasanya seperti tidak percaya. Bangunan kampus tempat belajarnya dulu seakan diam saja, sekarang seperti ramai menyapa.

Di ruang dekanat Pak Agus sudah memulai arahan padahal saat bocah itu tiba, jam dijanjikan belum menunjuk pukul 10:30. Lia sepertinya sudah datang 1 jam lalu, dia sudah duduk manis mendengarkan arahan Pak Agus. Setelah menjelaskan soal kewajiban dan tugas yang harus diemban, tak lama pintu terbuka dan Pak Dekan menyusul.

Senyum khas dari Pak Dekan Arqom Kuswanjono tidak berubah. Pak Dekan masih sama humble-nya seperti dulu. Terkait dengan pengembangan fakultas filsafat ke depan, beliau menerima kritik dan masukan bagi perbaikan dan pengembangan fakultas. “Selamat bergabung di Fakultas Filsafat, ya”, kata Pak Dekan, mengakhiri arahan siang itu.

Kurang dari setengah jam di dekanat, kita kemudian diajak ke ruang kerja di lantai tiga. Lazimnya pegawai baru, bocah itu dikenalkan dengan sejumlah tenaga pengajar senior; sebagian sudah dikenalnya seperti Prof. Dr. Lasiyo, Dr. Misnal, Dr. Rizal, Prof. Dr. Etsar dan sebagian lain belum kenal, terutama para ibu dosen yang tidak mengajar di Pascasarjana.

Pak Agus ternyata sudah men-plot bocah sebagai pengampuh matakuliah filsafat agama. Memang sedari awal saat bocah itu diterima sudah digadang akan mengantikan jadwal mengajar Pak Agus yang sering terkendala karena urusan di struktural (wakil dekan bagian SDM). Menurut penuturan Bu Wid, anak didik Pak Agus sering meluangkan waktu di perpus jika Pak Agus absen di kelas.

Di Fakultas Filsafat, dosen mengampuh lebih dari 2 matakuliah. Pak Agus menjelaskan bocah itu akan mengajar filsafat Islam dan akan tetap mengampuh matakuliah Pendidikan Agama Islam sebagaimana pernah dijalaninya sejak 2013-2015.

Bidang filsafat Islam merupakan minat kesenangan si bocah. Beberapa buku filsafat Islam dari Kairo sudah dibawanya ke Jogjakarta. Alam imajinya langsung masuk ke lorong waktu: mengenang saat-saat indah belajar filsafat Islam di bawah asuhan langsung alm. Duktur Abdul Mukti Bayyumi yang dikaguminya itu.

Kendati demikian dalam hati bocah itu tetap menganggap ini bukan pekerjaan enteng. Ia berjanji akan bekerja keras membantu pengembangan keilmuan filsafat di home base barunya di Jogjakarta.

Selain itu, berita dari Bu Wid tentang komentar Dr. Rizal untuk bocah itu yang keterima sebagai tenaga pengajar di Fakultas Filsafat juga turut membuat hatinya bunga. Hubungan bocah itu dengan Dr. Rizal cukup baik sekali. Karier mengajarnya di Fakultas Filsafat juga berkat dukungan Dr. Rizal. Melalui rekomendasi dari beliau, bocah itu bisa mengajar di kelas MPK tahun 2013.

Menurut penuturan Bu Wid, Dr. Rizal melihat bocah itu memiliki keunikan karena memiliki kemampuan berbahasa Arab secara aktif. Bu Wid bilang momentum bocah itu bergabung di Fakultas Filsafat juga pas dikarenakan para pengajar filsafat Islam mulai pada pensiun.

Menjelang jam pulang, bocah itu sempat bersalaman dengan Prof. Dr, Kaelan yang kebetulan sedang mengisi acara di lantai lima gedung filsafat. Dan saat berpamitan dengan Pak Agus, bocah itu dijanjikan akan menempati ruangan milik Mrs. Somebody yang tahun ini pensiun.

Tidak terasa... tidak lama lagi namanya akan dipasang di pintu ruang dosen. Nama itu melambangkan kebanggaan sekaligus menyadarkannya: beban tugas yang diembannya di Fakultas Filsafat akan semakin berat.

0 comments: