Hari
pertama masuk sebagai pengajar rasanya seperti tidak percaya. Bangunan kampus
tempat belajarnya dulu seakan diam saja, sekarang seperti ramai menyapa.
Di
ruang dekanat Pak Agus sudah memulai arahan padahal saat bocah itu tiba, jam dijanjikan
belum menunjuk pukul 10:30. Lia sepertinya sudah datang 1 jam lalu, dia sudah
duduk manis mendengarkan arahan Pak Agus. Setelah menjelaskan soal kewajiban
dan tugas yang harus diemban, tak lama pintu terbuka dan Pak Dekan menyusul.
Senyum
khas dari Pak Dekan Arqom Kuswanjono tidak berubah. Pak Dekan masih sama humble-nya
seperti dulu. Terkait dengan pengembangan fakultas filsafat ke depan, beliau
menerima kritik dan masukan bagi perbaikan dan pengembangan fakultas. “Selamat
bergabung di Fakultas Filsafat, ya”, kata Pak Dekan, mengakhiri arahan siang
itu.
Kurang
dari setengah jam di dekanat, kita kemudian diajak ke ruang kerja di lantai
tiga. Lazimnya pegawai baru, bocah itu dikenalkan dengan sejumlah tenaga
pengajar senior; sebagian sudah dikenalnya seperti Prof. Dr. Lasiyo, Dr.
Misnal, Dr. Rizal, Prof. Dr. Etsar dan sebagian lain belum kenal, terutama para
ibu dosen yang tidak mengajar di Pascasarjana.
Pak
Agus ternyata sudah men-plot bocah sebagai pengampuh matakuliah filsafat
agama. Memang sedari awal saat bocah itu diterima sudah digadang akan
mengantikan jadwal mengajar Pak Agus yang sering terkendala karena urusan di
struktural (wakil dekan bagian SDM). Menurut penuturan Bu Wid, anak didik Pak
Agus sering meluangkan waktu di perpus jika Pak Agus absen di kelas.
Di
Fakultas Filsafat, dosen mengampuh lebih dari 2 matakuliah. Pak Agus
menjelaskan bocah itu akan mengajar filsafat Islam dan akan tetap mengampuh
matakuliah Pendidikan Agama Islam sebagaimana pernah dijalaninya sejak
2013-2015.
Bidang
filsafat Islam merupakan minat kesenangan si bocah. Beberapa buku filsafat
Islam dari Kairo sudah dibawanya ke Jogjakarta. Alam imajinya langsung masuk ke
lorong waktu: mengenang saat-saat indah belajar filsafat Islam di bawah asuhan
langsung alm. Duktur Abdul Mukti Bayyumi yang dikaguminya itu.
Kendati
demikian dalam hati bocah itu tetap menganggap ini bukan pekerjaan enteng. Ia
berjanji akan bekerja keras membantu pengembangan keilmuan filsafat di home
base barunya di Jogjakarta.
Selain
itu, berita dari Bu Wid tentang komentar Dr. Rizal untuk bocah itu yang
keterima sebagai tenaga pengajar di Fakultas Filsafat juga turut membuat
hatinya bunga. Hubungan bocah itu dengan Dr. Rizal cukup baik sekali. Karier
mengajarnya di Fakultas Filsafat juga berkat dukungan Dr. Rizal. Melalui
rekomendasi dari beliau, bocah itu bisa mengajar di kelas MPK tahun 2013.
Menurut
penuturan Bu Wid, Dr. Rizal melihat bocah itu memiliki keunikan karena memiliki
kemampuan berbahasa Arab secara aktif. Bu Wid bilang momentum bocah itu
bergabung di Fakultas Filsafat juga pas dikarenakan para pengajar filsafat
Islam mulai pada pensiun.
Menjelang
jam pulang, bocah itu sempat bersalaman dengan Prof. Dr, Kaelan yang kebetulan
sedang mengisi acara di lantai lima gedung filsafat. Dan saat berpamitan dengan
Pak Agus, bocah itu dijanjikan akan menempati ruangan milik Mrs. Somebody
yang tahun ini pensiun.
Tidak
terasa... tidak lama lagi namanya akan dipasang di pintu ruang dosen. Nama itu
melambangkan kebanggaan sekaligus menyadarkannya: beban tugas yang diembannya
di Fakultas Filsafat akan semakin berat.

0 comments:
Post a Comment