Bocah itu tertarik menyampaikan pandangan filsuf muslim klasik Baghdad, Abu Hayyan Al-Tauhidi (922-1023 M), tentang filsafat. Pandangan filsafat Al-Tauhidi disarikan dari buku "Al-Muqābasāt" dan "Al-Imtā' wa al-Mu'ānasah." Teks klasik Al-Tauhidi ditulis mengikuti "selingkung" penulisan di masanya. Membaca teks Al-Tauhidi butuh ketekunan; dilakukan berulang-ulang.
Secara umum filsafat membantu pengkajinya memperoleh keutamaan moral seperti menghiasi perbuatan baik dan menepis perbuatan buruk. Filsafat menghadirkan kejernihan pikiran dan batin seseorang dari segala keraguan dan segala bentuk kesangsian. Kejernihan ini termasuk dalam terminologi mutakallim, yaitu tiadanya keingkaran terhadap Allah SWT.
Namun demikian apakah Al-Tauhidi adalah mutakallim? Pastinya diskusi akan memanjang dan bukan di tulisan ini persoalan tersebut dijabarkan. Sebuah pendapat Muhammad Arkoun dalam buku "Al-Ansanah fī al-Islām" (Humanisme Islam) yang merupakan hasil penelitian disertasinya sementara ini dapat kita pegang untuk menerangi isu tersebut. Bagi Arkoun, memisahkan filsafat (humanisme) dari teologi di abad klasik Islam adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
Al-Tauhidi dalam "Al-Muqābasāt" menjelaskan bahwa objek kajian filsafat adalah alam dengan seluruh isinya (hal. 223). Ia merincih kata alam yang ditulisnya, meliputi baik itu alam yang tampak oleh mata (mimmā dlahara li al-aini), yang dapat dipahami oleh akal (wa bathana lil al-aql), ataupun yang tersusun atas keduanya (wa mā rukkiba bainahumā).
Jika keterangan Al-Tauhidi di atas diterjemahkan. Objek pertama merupakan fisika, objek kedua adalah metafisika, sedangkan objek ketiga adalah matematika. Penguasaan filsafat diperoleh seseorang dengan mengetahui seluruh keilmuan yang menginduk pada tiga objek yang dimaksud.
Apa pandangan Al-Tauhidi tentang hubungan agama dan filsafat? Sebuah tema menarik yang menjadi perhatian oleh sebagian besar para filsuf muslim sejak awal. Al-Tauhidi di dalam karya "Al-Imtā' wa al-Mu'ānasah" menjelaskan filsafat dan agama adalah dua hal yang berbeda oleh karena filsafat berhubungan dengan penalaran, sementara agama berhubungan dengan keimanan.
Bagi Al-Tauhidi, filsafat bersumber dari akal manusia, sementara agama bersumber dari wahyu. Meskipun demikian, keduanya bagi Al-Tauhidi penting dan menentukan bagi kehidupan manusia. Al-Tauhidi di dalam "Al-Muqābasāt" menyinggung peran akal yang dihubungkannya dengan moralitas manusia.
Al-Tauhidi memang tidak serinci Ibn Rushd dalam mendiskusikan hubungan antara agama dan filsafat. Kendati demikian, rasionalitas Al-Tauhidi dalam mendiskusikan batasan keduanya menjadi point penting tersendiri yang patut diapresiasi. Lebih dari itu, penjelasan Al-Tauhidi memperlihatkan keluasan wawasannya di bidang agama dan filsafat.
Bagaimanapun, dalam diskursus sains versus agama, pandangan Al-Tauhidi ini menginggatkan bocah itu pada teori two-entity model. Model ini dengan beragam variannya, misalnya, muncul dari karya Ian Barbour (1923-2013) yang berjudul "Religion and Science: Historical and Contemporary Issues" yang cukup terkenal itu.[]

0 comments:
Post a Comment