Pages

Friday, April 19, 2024

Menjadi Gadjah Mada

Di tengah kebingungan menulis disertasi, bocah itu mencari kesenangan sementara. Obat pelipur lara. Ia membuka lemari brangkas Fakultas di ruang pribadinya, sebuah buku berjudul "Menjadi Gadjah Mada menjadi Indonesia: Tantangan Kegigihan dan Semangat Pantang Menyerah para Mahasiswa UGM Meraih Mimpi" mencuri perhatiannya. Ingatan bocah itu kembali 3 tahun lalu kepada sosok Bu Ika Dewi Ana yang saat itu menjabat sebagai Wakil Rektor 3 UGM. Buku itu merupakan pemberian Bu Ika. 

Buku itu adalah antologi, kumpulan refleksi sebagian dosen-dosen UGM tentang perjuangan mereka menyelesaikan S1 di UGM yang penuh dengan tantangan. Sesuai judulnya, buku itu berkisah kegigihan perjuangan yang tak pantang aral. Sementara bocah itu tidak menyelesaikan studi Sarjana-nya di UGM, namun bukan berarti bocah itu tidak memiliki sesuatu untuk diceritakan. Studi Sarjana bocah itu diselesaikan di Al-Azhar Kairo. Siapapun mengerti studi abroad jauh lebih berliku dari pada studi di dalam negeri.

Pengalaman studi S1 bocah itu sudah pernah sebagian diceritakan di blog ini dan karenanya bocah itu tidak perlu menceritakannya kembali. Dalam pikiran bocah itu, justru pengalaman mendaftar sebagai dosen UGM adalah keseruan untuk diingat dan direnungkan kembali. Tampaknya, momentum menceritakan keseruan pendaftaran dosen tahun 2017 lalu dengan semangat buku "Menjadi Gadjah Mada menjadi Indonesia: Tantangan Kegigihan dan Semangat Pantang Menyerah pada Mahasiswa UGM Meraih Mimpi" berkorelasi.

Bermula dari kegagalan-kegagalan yang dialaminya, bocah itu memutuskan kembali ke kampung halamannya dan tanpa terbesit meraih mimbar akademik seperti yang dicita-citakan sebelumnya. Memang cukup beralasan pilihan bocah itu. Meraih karier dosen di Jogjakarta, sekalipun di kampus kecil, bukan hal mudah karena ketatnya persaingan dan banyaknya calon dosen pendaftar. 

to be continued

0 comments: