Pages

Friday, January 19, 2018

Prof. Joksis


Satu lagi putra terbaik fakultas filsafat UGM dipanggil Allah subhanallah wa ta’ala. Adalah Prof. Dr. Joko Siswanto (1962-2018), Guru Besar Metafisika dan Kosmologi. Kira-kira sebulan lalu beliau masih terlihat bugar, tak dinyana pukul 19:05 WIB, Kamis, 18 Januari 2018, di RS Panti Rapih Jogjakarta, beliau dipanggil ke Rahmatullah.

Hubungan bocah itu dengan Prof. Dr. Joko Siswanto bisa dibilang dekat. Almarhum adalah dosen pembimbing tesis. Di kalangan fakultas filsafat, almarhum menangani urusan tugas akhir mahasiswa yang berkaitan dengan filsafat Barat. Kajian tesis bocah itu pemikiran (filsafat) Arthur Schopenhauer (1788-1860), masuk dalam skema filsafat Barat.

“Selamat, Anda sudah resmi menyandang gelar Magister of Philosophy”, begitu kata Prof. Dr. Joko Siswanto sambil menyalami si bocah, usai sidang tesis di gedung Pascasarjana UGM pertengahan Juli 2013 lalu. Ungkapan selamat dari almarhum terus menginggatkan si bocah akan sosok Prof. Dr. Joko Siswanto.

Almarhum meninggal karena komplikasi: akibat stroke, jantung, diabetes dan infeksi yang menjalar di tubuhnya. Prof. Joksis, begitu panggilan akrab-nya, dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 2008 lewat ceramah tentang filsafat kejahatan. Melihat kiprah dan pencapaian sebagai seorang pendidik, sudah selayaknya kampus melepas kepergiannya secara penuh hormat.

Bertempat di Balairung, UGM menghelat acara penghormatan terakhir sebelum almarhum dikebumikan di pemakaman keluarga Wonogiri. Hadir dalam takziah itu kolega-kolega beliau dari Fakultas Filsafat. Bapak Dekan Dr. Arqom Kuswanjono menyampaikan pidato biografi almarhum, sedang Dr. Rizal Mustansyir secara khusus berpidato mewakili keluarga almarhum. Acara bertambah khidmat saat Rektor UGM Prof. Dr. Panut Mulyono berpidato tentang pencapain almarhum yang berguna bagi bangsa.

Di kalangan mahasiswa filsafat, almarhum terkenal gigih dalam hal mengkaji pemikiran para filsuf. Pendidik gigih selalu menekankan pentingnya membaca karya “babon” para filsuf. “Reading the original text”, slogan yang kerap disampaikannya saat mengajar di kelas. Itulah bentuk kegigihan, atau jalan mempelajari filsafat yang sebenarnya. Kesejatian tidak mengenal jalan pintas. Untuk mempelajari filsafat harus merujuk pada sumber-sumber primer pemikiran filsafat secara langsung.

Bagi si bocah, almarhum adalah dosen sebenarnya. Maksudnya Prof. Joksis bukan dosen pegawai. Memang benar beliau adalah dosen pegawai di fakultas filsafat, tetapi dalam hal pengajaran: almarhum mengajar tidak sekedar memenuhi tuntutan jam, tidak asal sekedar masuk kelas untuk urusan kehadiran (sebagai seorang pegawai).

Beliau membuktikan memiliki kepakaran di bidangnya yang layak dibanggakan. Almarhum adalah dosen yang mengampuh matakuliah dengan sebenarnya. Untuk bidang kosmologi beliau tunjukan dengan karya Kosmologi Einstein, dan untuk metafisika beliau tunjukan karya Sistem-sistem Metafisika Barat.

Mengiringi kepergian Prof. Joksis, bocah itu ikut dalam sholat jenazah di Balairung, hadir dalam prosesi penghormatan terakhir beliau. Selamat jalan Prof. Joksis, semoga Allah melapangkan surga-Nya untuk-nya, menerima segala amal kebaikan dan kebaktiannya sebagai pengajar yang baik selama di fakultas filsafat. Kepada almarhum, bocah itu berdoa: Allahummarhamhu rahmatan wasian.

0 comments: