Bocah itu riang karena teman sekaligus mentornya di Jakarta, Mbak Titin, akan mengiriminya novel terbaru karya Leila S. Chudori: Laut Bercerita (2018). Mbak Titin meminta bocah itu bersabar menunggu kiriman buku tersebut, sebab novel itu akan dilengkapi tanda tangan penulisnya.
Sebelum Laut Bercerita, Leila S. Chudori menulis novel bagus: Pulang (2013). Bocah itu sudah melahap novel Pulang Leila seketika. Novel itu berkesan karena berkisah nasib kaum kiri Indonesia di luar negeri. Nestapa bagi kaum kiri, hidup di pengasingan karena tidak memiliki kewarganegaraan (tidak diakui di Tanah Air-nya sendiri). Novel itu dulunya dibaca atas rekomendasi Mbak Titin juga.
Memang untuk buku sastra, bocah itu membaca atas rekomendasi dari Mbak Titin. Menurutnya, ini seperti etiked bermazhab: biar baca novelnya tidak sia-sia, atau asal-asalan. Akan tetapi terkadang ia membaca atas nalurinya sendiri, terutama untuk karya-karya sastrawan besar Mesir seperti: Abbas Aqqad, Tawfiq Hakim, Anis Manshour, Baha Thahir dan lain-lain.
Perjumpaannya dengan Mbak Titin terjadi pada musim panas 2009 di Kairo. Waktu itu Mbak Titin diundang KBRI untuk meliput acara di kedutaan Indonesia, kalau tidak salah acara pameran kosmetik dan produk-produk Indonesia. Dengan postur semampai, kulit putih dan rambut sepundak, Mbak Titin memang cantik. Sebelum bergabung di Majalah Femina Jakarta, ia adalah wartawati Kompas.
Selama di Kairo, Mbak Titin tidak mau dianter travelnya KBRI. Ia lebih suka dianter bocah itu menyusuri lorong-lorong Kairo. Meski harus berjibaku dengan debu dan berdesak-desakan saat naik metro anfaq (kereta listrik bawah tanah), wartawati yang punya nama lengkap Yoseptin Pratiwi, justru menikmatinya. "Ini nanti bisa menjiwai rasa tulisan saya, Mam", kata Mbak Titin bersemangat.
Bersama bocah itu, Mbak Titin berkunjung ke kompleks gereja Margirgis yang di dalamnya terdapat 7 gereja kuno yang kini dijadikan tempat ziarah spiritual bagi umat kristiani. Di pelataran Gereja, Mbak Titin terkesima dan seakan masuk ke lorong waktu: apalagi salah satu gereja dinyatakan bayi Yesus pernah singgah di sana. Informasi itu berdasar keterangan berbahasa Arab di pelataran gereja.
Selain ke gereja, bocah itu juga mengajak Mbak Titin melihat langsung arsitektur masjid Amr ibn Ash. Ia hanya butuh menutupi rambut lurusnya dengan pasmina berwarna merah salmon yang sudah dipersiapkan. Sesaat pasmina dikenakan, Mbak Titin seperti muslimah modis, bocah itu memujinya dan langsung disambut tawa cekikikan Sang Mentor. Bocah itu menjelaskan Mbak Titin tidak perlu canggung keliling di dalam masjid, karena di Kairo turis masuk masjid itu hal biasa.
Rasanya kurang pas bila tidak berkunjung ke Al-Azhar Kairo, tempat bocah itu belajar. Butuh kurang dari 30 menit perjalanan ke kawasan Hussein. Sesampainya di sana mereka masuk ke Al-Azhar setelah menghabiskan asyir manggo dan segelas tamr hindi di kedai sederhana depan pintu masuk kampus. Saat itu siang bolong, matahari begitu terik dan menyengat.
Bocah itu meminta izin penjaga kampus: tamunya wartawati ingin meliput kampus Al-Azhar. Izin pun diberikan dan keduanya tanpa canggung lagi melenggang menyusuri bangunan Al-Azhar. "Bangunannya kuno ya, Mam", komentar Mbak Titin usai melewati gedung Syari'ah yang memang berdekatan dengan gerbang utama kampus.
Berlanjut ke masjid Al-Azhar. Sambil berjalan bocah itu menjelaskan sejarah Al-Azhar pertamakali berdiri. "Cikal bakal kampus Al-Azhar dulu dimulai dari pembelajaran (talaqi) di masjid ini", kata bocah itu menjelaskan. Namun Mbak Titin belum sempat komentar apa-apa karena buru-buru "disergap" ammu penjaga masjid.
Mbak Titin agak pakewuh, tidak mengerti bahasa Arab. Tapi bocah itu menengahi, pengawas hanya ingin Mbak Titin sedikit rapi di bagian dada. Maklum, pasmina yang menutupi rambutnya tidak menutupi dada-nya. "Oh itu toh..." sahut Mbak Titin setelah menyadari teguran tadi. Tidak masalah dan ia pun tersenyum.
Perjalanan bocah itu bersama Mbak Titin sampai pada malam hari, tujuan terakhirnya pasar tradisional Khan Khalili, belanja oleh-oleh khas Mesir. Di pasar ini, kecantikan Mbak Titin disanjung beberapa penjual mata keranjang, bahkan ada yang sampai jatuh cinta. Kebetulan Mbak Titin lagi belanja, jadi pas saja momennya. Beberapa penjual melepas barang dagangannya dengan harga murah. Pedagang itu sudah terlanjur terpanah.

0 comments:
Post a Comment