Pages

Monday, January 1, 2018

2018


Menjelang pergantian tahun 2018 tidak ada agenda dicanangkan kecuali mendekam di kamar. Bocah itu hanya sekali keluar pas jam 12 malam, di halaman depan rumah, menengadah ke langit dan melihat dar-der-dor kembang api menari di langit malam Jogjakarta. Kurang dari lima menit ia berdiri, lalu ia masuk dan tidur di atas karpet hijau yang tidak terlalu tebal untuk dijadikan alas tidur layak.

Di dalam pikirannya membuncah kegelisahan yang tak mampu dibendungnya. Kegelisahan itu sudah coba ia usir dengan mencari kesenangan saat berkunjung ke hutan pinus siang hari, sayangnya usahanya tak menuaikan hasil. Alih-alih kegelisahan itu malah bertambah kuat. Ia khawatir tidak mampu memanggul besarnya kesedian. Ia tidak berhasrat keluar dari kamar dan terus memikirkan jalan keluar dari kegelisahannya.

Akhir tahun ini dapat dibilang tahun cerah untuk karirnya, namun bukan berarti di langit tidak ada mendung. Betul saja mengingat ini bulan Desember yang sesekali cerah dan sesekali mendung. Soal mendung yang bocah itu maksud: ia tidak ditemani orang yang ia cintai di saat momen kebahagiaan pergantian tahun, padahal sebagian besar semua orang merasakan liburan dengan orang terkasih.

Hatinya gelisah. Bocah itu memikirkan belahan jiwanya yang terpisah jarak cukup jauh. Bocah itu tidak childish yang ingin selalu dimanjakan cinta, tetapi gairah rasa dan keinginan untuk bertemu benar-benar menghampirinya di akhir malam pergantian tahun baru. Bocah itu mengerti: ia yang di sana juga memahami kondisi yang ada. Barangkali pada kesempatan ini belum diizinkan merayakan malam bersama.

Bocah itu menghadapi dilema antara menetap di Jogjakarta atau pulang menyusul belahan jiwanya di sana. Sementara ia tidak gampang meninggalkan Jogjakarta untuk saat-saat ini, karena dalam waktu dekat ia harus mengikuti acara pembekalan di kampus. Dan itu sangat menentukan karirnya ke depan. Sementara dalam satu waktu ia tidak kuat menanggung beban rindu.

Tidak ada manusia yang tidak butuh piknik. Saat suasana sudah di ambang kemelut, cara mencairkannya adalah rekreasi. Bocah itu menyadari ia yang di sana juga pastinya suntuk, terlebih untuk urusan pekerjaan yang cukup menyita waktu dan pikiran. Belum lagi ia yang di sana mengurus si buah hati yang hiperaktif itu, semakin menambah beban pekerjaannya. So, kadar suntuknya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.

Urusan di dunia selalu terjalin antara dua kutub yang berbeda. Meminjam istilah Paul Ricoeur (1913-2005), dua kutub tersebut diistilahkan: apa yang dikehendaki dan apa yang tidak dikehendaki. Manusia hanya bisa mengontrol apa yang dikehendaki, tetapi seringkali saat "eksekusi", keinginannya terbentur dengan apa yang tidak dikehendaki.

0 comments: