Pages

Wednesday, December 27, 2017

Statusku


Tidak ada yang mengira kata ini (?) menusuk sanubari jika ditanyakan pada orang dewasa dan akan menikah. 

Dalam kumpul-kumpul silaturrahmi bersama teman-teman lama tadi malam, salah satu teman bocah itu menyinggung kata tersebut. Bocah itu tidak tahu apa jawaban pastinya. Tidak mungkin bocah itu tegaskan bahwa dirinya menyandang status *****, karena ia belum sepenuhnya di tahapan tersebut. Pertanyaan teman tadi membuatnya berkaca diri, tentang siapakah bocah itu sebenarnya.

Bocah itu mengalami situasi pahit: terpukul oleh status sendiri. Dipukul orang lain masih bisa membalas, tapi lain cerita kalau dipukul diri sendiri: justu semakin menohok. Statusnya telah memojokkannya. Tidak ada yang dapat dipersalahkan kecuali memaki, mencaci, dan menghardik diri. Bocah itu “mengada” dalam situasi diri yang tidak ingin ia tanggung.

Bocah itu tidak dapat tidur usai kumpul dan terus dipaksa memikirkan keberadaannya. Ia sudah berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang cukup, berusaha dan berusaha tapi ujungnya gagal. Gagal dan gagal lagi. Ketidakmampuan untuk berada dalam keadaan ideal yang ia impikan sungguh sangat menyiksa batinnya.

Søren Kierkeegard (1813-1855) mengalami ketidakberdayaan tentang paradoks hidup dengan ungkapan sickness unto death. Ketidakmampuannya membawanya sakit yang hampir mati karena saking tidak berdayanya. Kegagalan demi kegagalan menjegalnya jatuh, ia bertanya tentang dirinya dan mendapati kenyataan sangat pahit. Kenyataan bocah ini tidak bisa apa-apa; perasaan ini yang terus membuatnya menderita.

Atau, bocah itu seperti yang ditulis filsuf asal Denmark Kierkeegard di atas: kegagalanku menyebabkan Aku mati. Mati karena statusku sendiri.

0 comments: