Bocah itu belum terlalu dewasa untuk mengerti arti cinta. Saat menginjak tahun kedua studinya di Al-Azhar, hasrat cinta tiba-tiba muncul di hatinya. Namun di akhir cerita ia justru mencercah dan memaki. Cinta memang berkah yang kehadirannya menentramkan hati, tetapi bagi bocah yang belum berpengalaman soal asmara, bukan ketentraman hati yang didapat melainkan lubang di hati.
Semula rasa itu tidak dibina, melainkan mengalir apa adanya. Bisa dibilang bocah itu sekedar merespon keadaan atau meminjam istilah Heidegger: ia tersituasi (situated) oleh keadaan yang memaksanya berjibaku dengan cinta.
Cinta hadir dari pandangan mata yang turun ke hati. Dua hati saling cinta berkomunikasi melalui hati, karena itu ada istilah: bicara dari hati ke hati. Menurut sastrawan besar Mesir, Anis Manshour, dalam tulisan kolomnya di Harian Ahram yang membahas cinta. “Apa itu cinta?” Tanya Manshour. Cinta adalah ketakjuban dan kekaguman pada seseorang. Proses cinta dimulai dari mengagumi pribadi seseorang lalu menyelediki latar belakang orang tersebut.
Siapakah cinta pertama bocah itu? Dia adalah perempuan sederhana yang selalu tampil apa adanya. Karakternya kalem dan mengayomi, atau perempuan yang keibu-ibuan: sorot matanya teduh dan syahdu. Jika harus berbicara ia selalu mengecilkan suara dan tidak ingin menarik perhatian orang. Perempuan ini teman karibnya di Al-Azhar yang secara karir akademik bisa dibilang baik seperti pada umumnya mahasiswi lain. Usianya seumuran dengan si bocah tersebut.
Bocah itu tidak mengetahui kapan persisnya jalinan cinta dimulai, yang jelas bermula dari obrolan di dunia maya via layanan Yahoo Messenger. Komunikasi tidak terjalin setiap malam, tapi dapat dibilang sering. Kadang saat asyik ngobrol keduanya bisa sampai tengah malam. Pada akhirnya bocah itu menyadari bahwa pertemanan yang “diintensifkan” komunikasi akan menjalin kedekatan dan keakraban.
Masih diingat di benaknya, pada malam musim panas tiba-tiba perempuan itu menawarkan “diajak” jalan jika seandainya si bocah itu ingin jalan-jalan. Bocah yang masih polos itu menjawab dalam waktu dekat tidak punya agenda jalan-jalan. Waktu pun berjalan dan si bocah baru menyadari jawaban yang ia berikan ternyata kurang tepat karenanya ia sungguh-sungguh menyesal dan mengutuk dirinya sendiri. Bocah itu gagal memanfaatkan peluang menjalin hubungan yang lebih serius.
Apakah salah jawaban si bocah itu? Hmmm tidak juga. Jawaban itu mengalir apa adanya dan tanpa tendensi apa-apa, karena ia adalah bocah polos yang belum pernah bersentuhan dengan asmara. Mungkin cinta datang terlalu dini sampai ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu apakah itu salah cinta? Hmmm tidak juga. Cinta itu fitri dan manusiawi. Lantas apakah salah si perempuan? I have no idea.
Gelagat cinta dapat terbaca melalui tegur sapa di jalan atau pas ketemu di acara silaturrahmi. Bocah itu menyadari sapaan dari perempuan itu lain dari yang ia terima dari teman-teman karibnya. Perempuan itu selalu mulai menyapa si bocah meski dalam kerumunan. Hal yang tidak mungkin dilakukan si bocah itu sendainya di posisinya. Keberanian menyapa merupakan point tersendiri dan itu, menurut si bocah itu, datang dari desakan cinta atau kekaguman atau apalah rasa itu.
Saat perempuan itu kesusahan memahami diktat kuliah, si bocah itu diminta menjelaskan benang kusut pemahaman dalam pikirannya. Bukan hal mudah menjelaskan filsafat tetapi semua dilakukannya dengan riang dan dalam suasana hati senang.
Apakah ini terlalu berlebihan sampai akhirnya perempuan itu menyuruh si bocah mengerjakan bahts kuliah dan harus menuliskannya di atas kertas kwarto bergaris sebanyak 6 lembar? Bocah itu masih ingat judul bahts yang ditulisnya adalah soal komentar kontroversial Paus Benekditus soal Islam yang disebarkan dengan kekerasan.
Point dalam bahts itu, sebagaimana ditulis bocah itu, Paus Benekditus melakukan kesalahan karena mengutip teks abad pertengahan tanpa mengomentarinya dengan kritis. Bocah itu menyertakan pendapat Grand Syaikh Al-Azhar, Syeikh Sayyed Thantawi (alm.) yang menyatakan bahwa, mengutip pendapat abad pertengahan tentang Islam disebarkan dengan pedang, tanpa mengomentarinya, sama saja menyetujuhinya.
Perempuan itu mengenal betul si bocah, termasuk bidangnya yang tengah dibangun dalam menulis, karenanya satu waktu ia pernah datang tergopoh-gopoh ke kontrakan si bocah dan menyodorkan pamflet lomba tulis kolom. “Ikut ya, kamu pasti menang”, katanya. Tekanan dari perempuan itu membuat hati si bocah berdebar. Sepertinya itu cukup menganggu dan akhirnya ia tidak masuk nominasi.
Namun kegagalan pertama
langsung diganti dengan kemenangan lomba yang lebih prestesius. Akhirnya bocah
itu mentraktir perempuan itu makan bakso di Mutsallas yang cukup terkenal di masanya.
Saat itu musim dingin menggigil, tapi bakso yang panas dan suasana yang hangat
merekatkan keakraban keduanya, bahkan sampai bakso di mangkok habis kehangatan
itu masih terasa hingga keduanya pulang ke flat. [bersambung]

0 comments:
Post a Comment