Cuaca dingin disertai hujan turun hampir sepanjang hari adalah pandangan lumrah di bulan Desember. Desember musim basah, tanah becek dan tembok lembab. Sudah tiga hari ini rintik hujan dan mendung putih menyelimuti langit Jogjakarta.
Di tengah hawa dingin Desember, bocah itu bersama temannya Wahyu menghangatkan badan di kedai Blandongan. Di kedai ini, seperti biasa, dipadati para pengopi mahasiswa yang tinggal sekitar Sorowajan. Kedai Blandongan menyediakan kopi khas racikan jawatimuran kesukaan bocah tersebut: kopi pahit dan kental.
Cara termudah mengurai kepenatan hidup adalah dengan meminum secangkir kopi (tentu kopi yang tersaji di cangkir putih, sebagaimana kesukaan bocah itu). Sambil minum kopi untuk menghangatkan badan, obrolan keduanya bertema kepedihan dan beban hidup yang kian hari kian menekan.
Wahyu sudah keluar dari Optik Nusa. Kini ia sibuk mencari alternatif lain demi menyambung hidup yang terus menggila di Jogjakarta. Biaya makan, sewa kontrakan, termasuk akomadasi dan transportasi di kota Gudeg ini mulai tidak tertutupi bagi remaja di usianya yang berpenghasilan pas-pasan.
Tidak murah ukuran biaya hidup di zaman sekarang. “Apa-apa sekarang naik, mas”, keluh pria berkacamata, fans Manchester United ini. Jika tidak bekerja lantas dari mana lagi mau dapat untuk hidup. Uang memang bukan segalanya tapi segala sesuatu butuh uang. Cari kerja sekarang susah. Kota pelajar tidak menjanjikan lulus kuliah dapat kerja.
Kopi obat mujarab merefresh pikiran penat. Secangkir kopi panas sebenarnya tidak menyelesaikan masalah di sore yang diguyur hujan itu, tapi setidaknya kopi membantu keduanya berani mengambil jarak dari hiruk-pikuknya persoalan hidup yang telah direduksi gaya materialistik-hedonistik.
Kafe tak ubahnya --meminjam istilah Habermas-- public sphare tempat berbincang dan mendiskusikan pelbagai persoalan. Wahyu dan bocah itu duduk santai dan mendiskusikan kemungkinan keluar (solusi) dari kemelut hidup yang terus menindih.
Bocah itu menawarkan supaya Wahyu segera menikah karena sudah memiliki pacar (Caca). Tidak usah takut soal ancaman kekurangan materi. Di lihat dari matematika duniawi, sepertinya siapapun tidak akan sanggup menikah karena dihantui halus mapan dulu.
Kehidupan terus meminta biaya yang tidak akan pernah selesai, target untuk mapan di zaman sekarang sepertinya berat dilalui sendiri. Bukan soal tidak mau bekerja tapi minimnya lahan pekerjaan. Bahkan untuk memulai usaha hanya dapat dirasakan mereka yang kaya.
Oleh karena itu bocah itu mendesak, menikah bukan soal ditempuh saat mapan tapi justru menikah di saat belum mapan itu akan melengkapi usaha kita menuju kemapanan.
Sebelum menikah bocah itu bercerita pengalaman pribadi. Soal mendapatkan calon istri (pacar) bukan diukur melalui pengalaman kita bergelut dalam pacaran. Salah kaprah jika mengandaikan persoalan jodoh menurut ketentuan ilmu empirik, memang benar siapa yang banyak main di lapangan dialah yang berpengalaman.
Kenyataan soal jodoh sepertinya tidak demikian, jika melihat teman-teman semasa kuliah yang jago pacaran; bukan jaminan mereka mendapat jodoh cepat, apalagi tepat. Pengalaman bocah itu mendapatkan jodoh hanya 15% menurut hukum empirisnya, sisa 85% adalah pemberian Allah.
Sekarang kategori hal paling misterius di dunia ini selain ajal adalah jodoh dan rizeki. Soal ajal kita tidak perlu memikirkan karena sebagian besar orang hidup hanya ingin hidup, sangat jarang sekali orang hidup ingin mengakhiri hidupnya atau berbicara soal ajal.
Pengalaman pribadi si bocah itu, soal jodoh ia membuktikan semua proses pernikahan “sepertinya” telah diarahkan Allah. Kesannya cepat dan lancar. Serasa ia berjalan di atas garis takdir, mengalir begitu saja.
Setelah menikah kini tinggal membuktikan janji Allah soal rizeki, memang dimana-mana manusia harus berusaha mencarinya tapi usaha manusia terbatas di dunia empiris, ia tidak memiliki dunia yang serba luas dan kejadian-kejadian di dalamnya seringkali serba tidak terduga itu.
Dunia, selain Tuhan dan Manusia, sejak dahulu menjadi obyek pembahasan filosofis yang tidak pernah ada habisnya. Ilmu pengetahuan menyediakan sudut pandang sistematis soal dunia tapi tidak sampai mengerti semua tentang rahasia-rahasianya.
Filsuf Prancis Paul Ricouer menyebut ilmu pengetahuan hanya memberi problem solving, tapi tidak semua perkara di dunia selesai dengan problem solving ilmu pengetahuan.
Meski sudah ada ilmu pengetahuan, tetap saja keseluruhan dunia masih tidak terpecahkan, masih terdapat wilayah abu-abu yang bertentangan hukum empirik atau tidak jelas juntrungnya semisal arah kehidupan, peristiwa hidup, alam, cuaca dan lain sebagianya yang tidak ter-cover oleh ilmu pengetahuan. Apalagi soal nasib seseorang, tentang keberuntungan, nasib apes dan lain sebagainya.
Menurut Paul Ricouer, hal tak terpecahkan itu hanya bisa dijawab mitos. Mitos memainkan peran penting dalam kehidupan awal peradaban manusia, mitos adalah bahasa pengungkapan bagi misteri kehidupan yang tak terpecahkan. Mitos, bagi si bocah itu, adalah wilayah yang harus kita serahkan pada agama.

0 comments:
Post a Comment