Pages

Saturday, December 23, 2017

Doa


Bagi bocah itu, figur KH. Muhammad Idris Djauhari (alm.) melekat kuat dalam dirinya. Kyai Idris tidak pernah krisis spiritual meski selalu tampil rasional dan berwibawa. Salah satu penekanan Kyai Idris kepada santri-santrinya adalah: jangan lupa meminta doa dari orang tua.

Kyai Idris selalu menasehati para santri sebelum ujian agar meminta doa kepada orang tua, terutama pada ibu. Sewaktu bocah itu menjadi santri, nasehat itu selalu disampaikan Almarhum dalam dialog Jum’at sehabis shubuh. Aspek doa begitu penting menyertai usaha yang telah dikerahkan manusia. Almarhum menuturkan, usaha tanpa doa merupakan bentuk kesombongan yang tidak pantas dilakukan seorang santri, terlebih santri Al-Amien.

Satu bulan menjelang ujian, aktivitas di pondok yang tidak terkait dengan pelajaran formal, mulai diturunkan intensitasnya. Para santri mulai fokus belajar atau melakukan ulangan (muraja’ah). Biasanya masjid menjadi ramai karena para santri senang belajar di masjid yang “pencahayaanya” terang. Memang ada juga santri belajar di kelas, tetapi itu sebagian kecil saja. Masjid masih menjadi konsentrasi belajar sebagian besar santri, termasuk bocah itu.

Al-Amien memadukan antara usaha dan doa yang harus setara. Porsi keduanya harus seimbang. Belajar saja tanpa doa dikatakan sombong, sedangkan mengandalkan doa tanpa usaha (belajar) dikatakan naif. Almarhum sadar keberhasilan diraih berkat keseimbangan antara usaha dan doa. 

Dalam nomenklatur filsafat, unsur materi dan immateri dipadukan seperti dalam filsafatnya Rene Descartes: berpikir memang kerja jiwa tetapi proses berpikir membutuhkan sarana otak (materi), karena itu berpikir merupakan gabungan antara unsur jiwa dan badan. Atau dalam bahasa sederhana unsur materi dan rohani digandengkan. Tidak dibenarkan yang satu mengalahkan yang lain, tidak boleh yang satu di depan dan yang lain di belakang. Keduanya harus beriringan dan sejajar.

Al-Amien sebagai alumni pondok modern Gontor mewarisi orientasi “modern” yang bersifat –meminjam bahasa Marshall Hodgson– technic. Tetapi dalam waktu bersamaan, Al-Amien sadar bahwa orientasi technic perlu diperdalam nuansa spiritual kuat. Karena jika manusia menganggap pencapaiannya hasil dari dirinya, maka yang timbul adalah sikap angkuh dan congkak. Sebaliknya doa saja tanpa usaha akan jatuh pada sikap fatalistik: pada akhirnya tidak akan merubah apapun. Padahal janji Allah di Al-Qur'an: Allah tidak akan merubah suatu kaum sampai kaum itu merubahnya sendiri.

Santri Al-Amien tidak akan mudah melupakan perkataan Almarhum. Itu karena Almarhum selalu mengingatkannya berkali-kali sebelum masa ujian tiba. Sampai kini nasehat itu melekat di telinga si bocah itu. Bahkan setelah lulus dari Al-Amien kemudian melanjutkan S1 di Kairo, bocah itu tidak pernah lepas meminta doa kepada orang tua ketika hendak memasuki musim ujian. Sampai masuk kuliah S2 di Jogjakarta, tradisi itu tetap ia lakukan. Bahkan sekarang ketika hendak melamar pekerjaan, bocah itu tidak pernah luput meminta doa dari kedua orang tua.

0 comments: