Bagi bocah itu, figur KH. Muhammad
Idris Djauhari (alm.) melekat kuat dalam dirinya. Kyai Idris tidak pernah
krisis spiritual meski selalu tampil rasional dan berwibawa. Salah satu
penekanan Kyai Idris kepada santri-santrinya adalah: jangan lupa meminta doa
dari orang tua.
Kyai Idris selalu menasehati para
santri sebelum ujian agar meminta doa kepada orang tua, terutama pada ibu. Sewaktu
bocah itu menjadi santri, nasehat itu selalu disampaikan Almarhum dalam dialog
Jum’at sehabis shubuh. Aspek doa begitu penting menyertai usaha yang telah
dikerahkan manusia. Almarhum menuturkan, usaha tanpa doa merupakan bentuk kesombongan yang tidak pantas dilakukan seorang santri, terlebih santri Al-Amien.
Satu bulan menjelang ujian, aktivitas
di pondok yang tidak terkait dengan pelajaran formal, mulai diturunkan
intensitasnya. Para santri mulai fokus belajar atau melakukan ulangan (muraja’ah).
Biasanya masjid menjadi ramai karena para santri senang belajar di masjid yang “pencahayaanya”
terang. Memang ada juga santri belajar di kelas, tetapi itu sebagian kecil
saja. Masjid masih menjadi konsentrasi belajar sebagian besar santri, termasuk bocah itu.
Al-Amien memadukan antara usaha dan
doa yang harus setara. Porsi keduanya harus seimbang. Belajar saja tanpa doa dikatakan
sombong, sedangkan mengandalkan doa tanpa usaha (belajar) dikatakan naif. Almarhum sadar keberhasilan
diraih berkat keseimbangan antara usaha dan doa.
Dalam nomenklatur filsafat, unsur materi dan immateri dipadukan seperti dalam filsafatnya Rene Descartes: berpikir memang kerja jiwa tetapi proses berpikir membutuhkan sarana otak (materi), karena itu berpikir merupakan gabungan antara unsur jiwa dan badan. Atau dalam bahasa sederhana unsur materi dan rohani digandengkan. Tidak dibenarkan yang satu mengalahkan yang lain, tidak boleh yang satu di depan dan yang lain di belakang. Keduanya harus beriringan dan sejajar.
Dalam nomenklatur filsafat, unsur materi dan immateri dipadukan seperti dalam filsafatnya Rene Descartes: berpikir memang kerja jiwa tetapi proses berpikir membutuhkan sarana otak (materi), karena itu berpikir merupakan gabungan antara unsur jiwa dan badan. Atau dalam bahasa sederhana unsur materi dan rohani digandengkan. Tidak dibenarkan yang satu mengalahkan yang lain, tidak boleh yang satu di depan dan yang lain di belakang. Keduanya harus beriringan dan sejajar.
Al-Amien sebagai alumni pondok modern
Gontor mewarisi orientasi “modern” yang bersifat –meminjam bahasa Marshall
Hodgson– technic. Tetapi dalam waktu bersamaan, Al-Amien sadar bahwa
orientasi technic perlu diperdalam nuansa spiritual kuat. Karena jika manusia menganggap pencapaiannya hasil dari dirinya, maka yang timbul adalah sikap angkuh dan congkak. Sebaliknya doa saja tanpa usaha akan jatuh pada sikap fatalistik: pada akhirnya tidak akan merubah apapun. Padahal janji Allah di Al-Qur'an: Allah tidak akan merubah suatu kaum sampai kaum itu merubahnya sendiri.
Santri Al-Amien tidak akan mudah
melupakan perkataan Almarhum. Itu karena Almarhum selalu mengingatkannya
berkali-kali sebelum masa ujian tiba. Sampai kini nasehat itu melekat di
telinga si bocah itu. Bahkan setelah lulus dari Al-Amien kemudian melanjutkan S1
di Kairo, bocah itu tidak pernah lepas meminta doa kepada orang tua ketika
hendak memasuki musim ujian. Sampai masuk kuliah S2 di Jogjakarta, tradisi itu tetap ia
lakukan. Bahkan sekarang ketika hendak melamar pekerjaan, bocah itu tidak
pernah luput meminta doa dari kedua orang tua.

0 comments:
Post a Comment