Pages

Sunday, March 24, 2024

Bulan Ramadhan

Perwakilan mahasiswa dari Rumah Kepemimpinan menghubungi dan meminta kesediaan bocah itu untuk menjadi pemateri dalam sesi kajian Ramadhan di salah satu masjid di Sleman, Yogyakarta. Panitia meminta bocah itu berbicara tentang cara “membangkitkan semangat spritualitas setelah Ramadhan selesai.” 

Turunan tema ini yang menurut bocah itu penting adalah sub penjelasan tentang bagaimana ibadah amaliah tetap “menyala” selayaknya ketika bulan Ramadhan. Di sini kesesuaian tema dan waktu pelaksanaan kajian telah dipikirkan matang-matang oleh panitia. Sesuai jadwal, kajian ini akan dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Ramadhan. 

Setelah membaca literatur-literatur tentang puasa, keterangan Al-Ghazali dalam buku Ihyā’ Ulūmuddīn, khususnya buku pertama tentang ibadah, bab tentang puasa (kitāb asrār al-shaum), menjadi materi yang terbaik untuk disampaikan. Penjelasan Al-Ghazali tentang puasa dapat memupuk kesalehan sekaligus meningkatkan spritualitas yang berkelanjutan.

Al-Ghazali membagi level puasa menjadi tiga yaitu, puasa awwām, puasa khawwāsh dan puasa khawwāsh al-khawwāsh. Pembagian ini menjadi starting point pembahasan bocah itu nanti. Keterangan Al-Ghazali tentang dimensi spritual puasa menggugah kita dalam menerapkan sekaligus melakukan penilaian secara ketat seperti apa dan bagaimana (caranya) puasa yang baik dan berkualitas itu diamalkan.

Bukan hanya itu, keterangan Al-Ghazali juga memperdalam refleksi puasa kita secara langsung. Apakah selama ini puasa yang kita kerjakan sekedar untuk menahan nafsu badani seperti tidak makan dan minum sebagaimana puasa level awwam; ataukah lebih baik dari yang pertama, kita berada di level puasa khawwash; atau bahkan jauh di atas dua level sebelumnya, kita berada di level puasa khawwash al-khawwash?

Level tertinggi puasa adalah puasa khawwash al-khawwash. Level puasa tertinggi ini oleh Al-Ghazali disebut puasanya para nabi. Singkatnya, puasa khawwash al-khawwash ini adalah puasa hati. Praktik puasa spritual ini tidak memperkenankan pengamalnya untuk memikirkan sedikitpun di hatinya kecuali mengingat kebesaran dan keagungan Allah SWT. 

Tentunya, untuk menjawab pertanyaan bagaimana ibadah amaliyah tetap menyala sebagaimana ketika Ramadhan, latihan atau praktik puasa khawwash al-khawwash adalah jawabannya. Puasa level nabi ini hanya mengisi hati seseorang kesibukan untuk menginggat Allah SWT. Memang puasa khawwash al-khawwash tidak mudah dilakukan, namun usaha untuk mewujudkan level puasa istimewa di dalam bulan suci Ramadhan ini harus senantiasa diperjuangkan. 

Sekali lagi, keterangan Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din dapat membantu mendekatkan pemahaman kita tentang puasa yang dimaksud. Melalui puasa khawwash al-khawwash tujuan spritualitas Ramadhan akan jauh lebih membekas. Seseorang akan tetap merasakan “api” Ramadhan sekalipun bulan suci itu telah beakhir.

Izinkan dalam tulisan ini bocah itu membagikan pesan-pesan penting Al-Ghazali tentang puasa. Pesan akan ditulis dengan bahasa yang bukan versi terjemahan. Sembari mengutip pendapat Al-Ghazali, bocah itu pun mencoba mengembangkan pandangan dari sang Imam Abu Hamid Al-Ghazali sesuai kebutuhan. Pengembangan dilakukan dengan menambahkan konteks atau memperdalam relevansi pesan Al-Ghazali dengan kondisi dan situasi sekarang.

0 comments: