Pages

Friday, February 20, 2015

Bebal


Berbeda dengan anak kecil zaman sekarang yang sudah tampil necis dengan rambut klimis, penampilan bocah itu di waktu TK mencolok dengan rambut merah khasnya yang tidak terurus. Ibunya tidak pernah ngantar berangkat ke sekolah TK karena sibuk dagang di pasar, sedangkan Sang Ayah pagi hari sudah berangkat mengajar di salah satu sekolah agama di desa sebelah.

Sebagai ganti setiap pagi berangkat ke sekolah TK, bocah itu selalu diantar Yu Jannah tetangga depan rumah yang terpaut 7 tahun lebih tua darinya. Sampai kini hubungan keduanya masih sangat baik, bahkan erat: sudah seperti saudara sendiri. Saking dekatnya hubungan kekerabatan ini terjalin, bocah itu sudah dianggap anak angkat oleh ibu dari Yu Jannah.

Sore hari bersama kakaknya yang sekarang sudah almarhum (Misbahul Ihsan) bocah itu menjalani rutinitas belajar mengaji Turutan (Iqra') di kediaman Ibu Masmu’. Mengaji dulu bukan membaca, dulu ya mengaji ibarat mendengar suara Ibu Masmu’ lalu mencoba menghafalkannya sambil terbata-bata. Usia masih belia, masih terlalu dini belajar membaca.

Menginjak kelas 2 SD/MI si bocah dimasukan di TPQ mushollah Al-Hidayah. Ia dididik membaca Al-Qur'an secara serius dua kali dalam sehari: setelah sholat Shubuh dan Maghrib. Di mushollah ini semua anak dilatih membaca Al-Qur'an dengan tartil, tajwid dan gharib yang bagus. Setelah empat tahun mengaji, pas kelas 4 SD/MI ia lulus ujian TPQ di Gresik.

Meski bisa mengaji tetap saja ia merasa bebal di ilmu menghitung. Hari-hari yang tidak mengasyikan adalah ketika masuk sekolah SDN Campurejo. Banyaknya jam pelajaran matematika di bangku SD membuat dirinya tak berdaya. Jangan kaget nilai matematikanya jeblok parah di bawah angkah 4. Ia merasa berat hati menerima kenyataan pahit waktu itu.

Di tingkat sekolah dasar siapa pandai matematika sudah pasti rangkingnya tinggi. Teman-teman yang pinter hitung-hitungan rangkingnya bagus-bagus. Biasanya mereka itu dialem (diperhatikan) guru-guru, namanya disebut-sebut di kelas dan diikutkan dalam lomba cerdas-cermat sekecamatan Panceng.

Adapun bocah itu yang rangkingnya di zona degradasi selalu diderah perasaan “tersisihkan” melihat teman-teman bersinar. Bahkan sampai tahap kehilangan jati diri. Lebih cenderung minder, hidupnya seakan tidak berarti lagi untuk ukuran saat itu.

Belakangan disadarinya bocah itu bahwa perasaan yang tercabik waktu itu mirip dengan ungkapan filsuf Prancis Jean-Paul Sartre dalam ungkapan: being and nothingness (ada dan tiada), di satu sisi dirinya memang ada tapi di sisi lain (karena tidak dipakai) dirinya merasa tidak ada.

0 comments: