Pages

Saturday, February 21, 2015

Kyai


Bagi bocah itu, figur pengasuh pondok alm. Kyai Idris Djauhari memainkan peran penting dalam membentuk intelektualitas santri-santrinya. Beruntung santri Al-Amien yang masih menangi (sezaman) saat beliau memimpin Al-Amien Prenduan. Nasehatnya tentang membaca dan menulis tidak pernah absen saat berbicara di depan santri.

Menariknya motivasi dan sugesti dari Kyai Idris selalu disampaikan dengan orasi memikat. Tausiyah Kyai Idris yang selalu diingat bocah itu adalah jangan mau jadi anak bodoh, lakukan setiap pekerjaan kalian dengan ilmu. Jadilah santri cerdas dan jangan jadi santri pemalas.

Beliau dalam pandangan bocah itu, mampu mengabung teori-teori yang dipelajari dari berbagai buku Barat dengan nilai-nilai Islam. Penyampaiannya pun menarik, tapi bukan berarti mengebuh-gebuh. Orasi beliau memantik emosi, pikiran, dan mampu membangkitkan audien (para santri) bernalar.

Tipikal yang tidak dapat dilepaskan dari orasi Kyai Idris adalah saat menyampaikan gagasam selalu memakai referensi. Gagasan itu disampaikan dengan plus minusnya, dan jika masih menyisahkan problema, beliau men-share kepada para asatidz yang hadir untuk dicari solusi atau menjadi PR bersama.

Figur Kyai Idris adalah figur yang rajin membaca. Bahkan bila pondok akan mendapat kesempatan bertemu salah satu menteri kesehatan misalnya, Kyai Idris jauh-jauh hari meyiapkan materi kesehatan, misal dari koran, majalah, jurnal, artikel-artikel kesehatan dan buku-buku yang representatif. Karena itu selalu beliau berpesan, ayo anakku baca, jangan malas membaca. “Saya pun sampai detik ini masih bodoh dan harus membaca,” kata beliau.

Tradisi membaca di pondok Al-Amien tidak bisa dianggap enteng. Barangkali ini adalah sendi terkuat dimiliki pondok. Kyai Idris menginternalisasi budaya membaca dengan slogan cukup ketat: siapapun yang tidak membaca dalam sehari maka diharamkan (baginya) melihat cahaya matahari.

Dalam pengertian ekstremnya: siapa yang tidak membaca matanya dilarang melek. Kyai Idris menyarankan santri selalu membawa buku bacaan untuk memperluas cakrawala pengetahuan. Pesannya: jangan menjadi kecoa (kelompok calon orang awam), jadilah santri cerdas.

Sebagai pemimpin beliau kerap menyeruh jangan pernah lupa mencatat ilmu baru didapat. Dalam pertemuan-pertemuan formal di aula pondok, beliau seringkali mewajibkan seluruh santri membawa kaskul (buku catatan) dan pena. Seperti prinsip Imam Al-Ghazali, ilmu laksana hewan buruan, agar tidak lepas hewan itu harus diikat dengan tali. Ilmu itu adalah hewan buruan dan tali itu pena.

Kyai Idris sudah memberikan teladan yang cukup bagus dalam dunia tulis menulis. Beliau menulis sejumlah buku penting dan itu diajarkan di kelas. Menurut Kyai Idris membaca tanpa menulis ibarat pohon tanpa buah. Kreativitas membaca harus disalurkan dalam tulisan. Semua santri diingatkan bisa berdakwah dengan lisan dan tulisan, atau memilih salah satunya.

Bocah itu sangat mencintai alm. Kyai Idris bahkan setelah lepas dari pesantren bertahun-tahun, figur Kyai Idris sering datang di mimpinya. Kini dalam figur ideal bocah itu terdapat 2 Kyai yang selalu diingatnya: alm. Mbah Wahab Chasbullah dan alm. Kyai Idris Djauhari.

0 comments: