Menyadari bahwa dirinya sudah tertinggal (karena bocah itu bodoh dan bebal), ia tidak dapat mengandalkan apa-apa kecuali modal sabar dan tekun. Lagi pula bukankah sudah banyak diketahui bahwa batu cadas yang ditetesi air dari waktu ke waktu akan pecah juga. Sebebal apapun otak manusia tidak sampai mengalahkan kerasnya benda mati seperti batu.
Pelajaran batu yang pecah akibat tetesan air menguatkan mental bocah kurus yang bebal itu untuk bangkit.
Potensi yang bocah itu miliki hanya satu, tekun membaca, begitu ia meyakinkan pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa mengandalkan selain membaca. Di bidang materi ia bukan orang kaya, di bidang fisik pun termasuk kurus: tidak bisa diandalkan, tidak bisa bermain bola atau olah raga lainnya, berbicara pun tidak mahir, ketrampilan (skill) menonjol pun tidak punya.
Yang bisa bocah itu konfirmasi tentang jati dirinya adalah: ia anak muda ingusan dengan sejarah masa lalu yang kurang membanggakan, urakan, atau kurang lebih: nakal dan mbetik. Sejarah itu harus dilupakan karena menyisahkan memori kelam dan akan menghambat perjalanannya ke depan.
Sampai detik ini ketika bocah itu belajar Filsafat Barat di Pascasarjana Ilmu Filsafat, ia menemukan kisah hidup para fisuf mengalami beberapa fase genting yang membuatnya memutuskan pilihan yang terbaik. Yaitu memilih meninggalkan masa lalu kemudian merumuskan jalan baru baru.
Immanuel Kant (1724-1804), misalnya, membagi hidupnya dengan dua fase penting: fase pra-kritik dan fase kritik. Fase pra-kritik merujuk dimana Kant menjadi pengikut rasionalisme akibat pengaruh filsuf rasional Christian Wolf (1679-1754), adapun fase kritik merujuk dimana Kant berbalik menkritik faham rasionalisme yang dulu dianutnya dan merumuskan paham baru kritisisme.
Akhirnya bocah itu bertekat ia harus menjadi pribadi baru, citra dirinya harus sama sekali berbeda dengan jalan yang dulu ia tempuh. Jalan baru yang kini sedang ia rambah adalah dengan membaca. Pilihan ini bulat dan tidak bisa digugat.
Bila diingat kembali dengan wawasannya sekarang, hampir-hampir gambaran sikap si bocah itu menyerupai sastrawan Inggris penulis Romeo and Juliet, William Shakespeare (1564-1616), dalam ungkapan: to be or to be not. Iya atau tidak: membaca atau tidak sama sekali. Dalam bahasa Arab dilukiskan dalam ungkapan: an takûna au lâ takûna.

0 comments:
Post a Comment