Bocah itu dilahirkan dari keluarga serba biasa di sebuah desa yang keras (kasar) seperti lazimnya desa-desa di pesisir Pantai Utara. Tidak ada yang istimewa dalam keluarganya kecuali satu hal: perhatian Sang Ayah yang begitu mendalam di bidang pendidikan agama.
Sang Ayah adalah alumni pesantren Tambakberas Jombang yang diasuh langsung oleh alm. Mbah Wahab Chasbullah (pendiri ormas Nahdlatul Ulama). Menurut Sang Ayah, jarang ada kyai seperti mendiang Mbah Wahab yang memiliki kelebihan dua hal sekaligus: pandai ilmu agama dan dikaruniai ilmu kanuragan yang mengesankan. Kombinasi keduanya sulit ditemukan pada figur kyai lain.
Nilai-nilai agama dipelajari Sang Ayah di pesantren kini coba ditanamkan di keluarga. Bukti sederhananya: Sang Ayah menamai semua anaknya dengan nama Islam dan memasukkan mereka ke pesantren. Suatu sore bocah itu bertanya mengapa diberi nama yang sekarang disandangnya? Menurut Ayahnya, nama depan si bocah artinya pemimpin, sedang arti baris berikutnya adalah agama.
Ketika itu ia merasa tidak cocok dengan yang diberikan ayahnya, kesannya terlalu berlebihan dan tinggi padahal kelakuan si bocah waktu itu mbetik (nakal) dan tidak ada yang menonjol kecuali hal-hal negatif. Namun doa orang tua amatlah mustajab, berlahan tapi pasti, jalan menekuni agama mulai terbuka sejengkal demi sejengkal.
Filsuf Prancis, RenĂ© Girard, pernah menegaskan kembali pemikiran Yunani kuno bahwa di dunia ini tidak ada yang orisinil atau yang baru tanpa didahuli oleh apapun sebelumnya. Dalam arti semua hasrat kita akan sesuatu tak lain merupakan hasil meniru orang lain (atau memodelkan orang lain). Hasrat memodelkan orang lain itu, menurut Girard, disebut “hasrat mimesis” (hasrat meniru).
Belakangan diketahui model Sang Ayah mendidik si bocah ingin meniru figur Mbah Wahab yang pandai ilmu agama. Pendidikan pesantren dengan demikian menjadi sarana paling tepat bagi Sang Ayah untuk membentuk pendidikan agama anak-anaknya (terutama si bocah itu). Minimalnya anak-anaknya bisa mengaji dan khusuk beribadah terutama urusan sholat lima waktu.
Memang Ayah bocah itu memodelkan Mbah Wahab. Bahkan foto Mbah Wahab dipasang di ruang tamu beserta dengan foto Kyai Fattah. Liburan keluarga selalu disempatkan datang ke pesarehan Mbah Wahab di Tambakberas Jombang: untuk mengaji dan membaca tahlil. Lalu diteruskan ziarah ke makam Mbah Hasyiem Asy'ari dan Gus Dur di Tebu Ireng, Diwek, Jombang.

0 comments:
Post a Comment