Pages

Saturday, February 21, 2015

Derita


Pengalaman pertama kali mondok bagi bocah itu sangat pahit. Lingkungan di pondok serba ketat dan diikat disiplin tinggi. Segala prilaku santri dinilai dari segi reward and punishment. Jika santri menaati disiplin (atau sampai berprestasi) ia akan mendapat penghargaan (reward), sebaliknya jika melanggar aturan pondok ia dapat ta’zir atau sanksi (punishment).

Shock culture itulah yang dialami bocah itu begitu sampai di pondok. Kaget dan menohok. Di sini segala-galanya diatur peraturan dan regulasi, acuan pertama adalah waktu. Jam memegang kendali segala aktivitas santri. Begitu jam berbunyi semua santri berbondong-bondong pindah dari kegiatan satu ke kegiatan lain.

Saking padatnya kegiatan di pondok Al-Amien tidak ada yang namanya libur. Pengertian libur adalah al-intiqâl min amalin ilâ amalin `âkhar, perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Tak ayal kehidupan ini membuat si bocah itu  ling-lung. Bagaimana tidak? Selama di rumah tidak ada aturan hitam putih yang serba menekan, begitu di Al-Amien dipaksa menyesuaikan peraturan semi militer.

Di pondok wajib bangun 1 jam menjelang shubuh. Mau tidak mau harus mengikuti jika tidak ingin masuk mahkamah syariah. Syukurlah bocah itu memang dari kecil termasuk paling mudah digugah, tidak seperti kakak dan adiknya yang mbangkong-nya juara itu. Mbangkong istilah raja tidur atau yang tidak bisa bangun pagi (Jawa).

Derita anak rumahan yang dikirim ke pondok, ketika bangun tidur yang ada di kepala adalah sosok ibu. Sedih rindu ibu, menangislah bocah itu dalam hati. Sedih tidak boleh larut. Segera ganti baju dan ke masjid dengan membawa mudzakkirah, buku dan kamus kecil. Bismillah.

0 comments: