Pages

Thursday, February 19, 2015

Hari-hariku


Hari-hariku adalah tulisan ringan yang dikerjakan (ditulis) saat waktu senggang: saat tidak ada kerjaan, saat hari-hari tenang, saat tidak diganggu aktivitas lain. Hari-hariku adalah ungkapan tentang apa yang sudah, sedang dan akan dialami oleh penulisnya prihal lika-liku hidupnya yang kadang manis dan pahit.

Niat menulis Hari-hariku sebenarnya sudah sejak lama. Bahkan sejak di Negeri Kinanah pernah menulis catatan harian yang sama. Sayangnya file tulisan itu tersebar di mana-mana menginggat dulu tidak punya komputer pribadi. Dan sejak memiliki komputer pribadi, file Hari-hariku hilang akibat hardisk rusak (bad sector).

Ketika di Jogjakarta kembali menulis sepenggal cerita harian dan sekelumit kisah masa kecil. Apalah daya menjelang Ramadhan kemarin laptop kesayangan yang sudah menemani tiga tahun itu dicuri orang. Cendela kamar dicongkel. File tulisan ikut mabur dibawa si brandal pembegal itu.

Mengapa judul Hari-hariku? Flashback tahun 2007, ketika itu untuk kali pertama membaca autobiografi Toha Hussein berjudul al-Ayyâm. Buku itu hasil kumpulan tulisan Hussein di salah satu koran di Kairo Mesir. Al-Ayyâm berisi kisah perjalanan hidup Toha Hussein sejak kecil sampai menjadi wazir (menteri) pendidikan di Mesir.

Toha Hussein sejak kecil mengalami kebutaan. Hebatnya, dia tidak patah semangat dan berusaha menjadi hebat. Sejak kecil sudah hafal Al-Qur’an, pernah belajar di Al-Azhar, kemudian pindah ke Cairo University. Lebih hebat lagi Hussein mengambil program Doktoral di Universitas Sorbonne Prancis. Di Sorbonne pula ia menemukan kekasih hatinya.

Masih ingat betul bab paling menarik dalam al-Ayyâm. Adalah ketika Toha Hussein menyatakan keinginannya belajar ke Prancis, apa yang terjadi kala itu: ia diremehkan dan diketawain saudara-saudaranya. Lalu Toha Hussein bilang: tadlhakûna al-ân wa tu`jibûn ghad, “sekarang kalian ketawa tapi esok kalian akan terkejut.”

Barangkali tidak ada buku autobiografi yang sangat menarik selain buku al-Ayyâm. Membaca kisah nyata orang besar dan ditulis dalam keindahan bahasa yang bagus serta penyajiannya datar dan menghibur punya arti tersendiri. Membaca kisah dan pengalaman hidup Toha Hussein sangat bermanfaat sekali agar kita (terutama saya pribadi) berkaca diri. 

Secara bahasa Hari-hariku adalah terjemahan bebas penulis dari al-Ayyâm. Memang diri ini bukan Toha Hussein yang hebat itu. Namun apa yang dikatakan Toha Hussein di pengantar bukunya benar-benar penulis rasakan dan alami. Bahwa menulis adalah hiburan untuk melepas ketegangan di otak, melepas risau, mengusir galau, membunuh sepi, dan menenangkan emosi yang meradang.

Menulis Hari-hariku ini untuk membuang risau di hati. Untuk menulis pun harus menunggu waktu senggang dan biasanya dilakukan di malam hari saat semua sudah tidur dan suasana hening. Sejak sepuluh hari terakhir ini Hari-hariku ditulis. Akan tetapi tidak setiap malam karena kadang dihadang lelah karena seharian di jalan dan bepergian.

0 comments: