Membuka inspirasi bukan hal mudah bagi sebagian orang. Kadang insiparasi tidak bisa dipaksakan melalui banyaknya buku bacaan. Malah banyak baca membuat otak lelah, dihinggapi jenuh, stresh kecil, dan sering bosan. Maksud hati ingin mendapat inspirasi, memaksa membaca malah kontraproduktif. Lelah membaca bikin dahi berkerut dan perut cepat lapar.
Sudah tiga hari sejak menyelesaikan resume untuk kelas agama (03 Desember 2014) rasanya setelah itu hari-hari kosong. Bukan soal tidak ada kerjaan, tapi memang otak sedang tidak kompromi. Membaca yang ringan-ringan pun tak bergairah. Dalam keadaan tidak terisi seperti ini, hari-hari hanya diisi tidur dan nonton kuliah filsafat Rm. Setyo Wibowo tentang Friedrich Nietzche dan kuliah Rm. Budi Hardiman tentang hermeneutika di Youtube.
Namun obrolan bersama seorang sahabat akrab di kedai Blandongan sore ini justru membuka pintu-pintu inspirasi. Sembari minum kopi di suasana sore yang teduh, kita bergantian cerita mengenangan saat sama-sama duduk sebagai mahasiswa di kelas Pascasarjana Ilmu Filsafat. Belajar teori-teori idealis dari filsuf-filsuf besar membekas hingga sulit dilupakan, terutama filsuf idealis Jerman. Ceritanya sore itu sedikit mengulang sebagian yang sudah pernah kita pelajari.
Seperti kebiasaan mahasiswa filsafat yang selalu berpikir dan mencari dasar ontologi realitas: tema yang kita obrolkan terkait korelasi ilmu di kelas dan kehidupan praksis kita. Di kehidupan serba keras kadang mempratekkan ilmu itu tidak mudah. Selalu saja idealisme terbentur pragmatisme. Diktat dan modul yang kita pelajari terbentur dengan modal, pertanyaan sering kita temui: besok kita mau makan apa? Sudah cukupkah modal di kantong memenuhi kebutuhan hidup? Apakah sudah siap kita merancang masa depan bermodal uang di kantong yang jumlahnya tidak seberapa itu? Hidup tidak cukup dengan “berpikir” saja.
Memang tidak mudah hidup di zaman serba hedonis dan materialis seperti sekarang. Seperti pengakuan teman sore itu, kalau tetap terus berjalan yang benar sudah pasti kalah dengan yang culas. Kebenaran dan kejujuran sudah tidak dihargai jika urusannya kepentingan. Siapa yang terus lurus-lurus hidupnya akan ditelan. Hampir semua yang terlibat di birokrasi berani bermain. Bermain bukan sekedar bermain dalam bahasa sehari-hari: bermain itu nekat menempuh jalur curang demi terpenuhinya kepentingan dan keperluan pribadi atau golongan.
Kendati hidup itu berat namun itu tidak menghalangi kita sebagai pelajar filsafat konsisten meniti jalur kebenaran (kebaikan) sebagaimana cita-cita primordial filsafat itu sendiri. Meminjam gagasan Immanuel Kant (1724-1804) bahwa konsistensi pada moral itu harus terus diperjuangkan. Kebaikan harus menyertai moral orang bijak yang dibuktikan dengan selalu memiliki niat baik (good will).
Tidak selesai di situ, perjuangan terhadap niat baik itu harus selalu diusahakan hingga menjadi niat baik yang transenden atau menjadi niat baik yang suci (holly will). Bermoral sempurna dan konsisten menjalankannya bagi Sang Filsuf Idealis Jerman adalah jalan yang harus ditempuh manusia (moral faith) dalam hidupnya.
Mahasiswa filsafat kerap di-ece (diledek) berpikir rumit dan tidak jelas. Kesan itu timbul dikarenakan teori filsafat melangit, tidak menyentuh realitas dan tidak nyambung. Semakin sakit, riuh asosiasi rumit itu sering diiringi ledekan: ah ini filsafat mengawang-ngawang. Padahal filsafat adalah dasar (metafisis) keilmuan (science) itu dibangun. Bila tidak ada filsafat mustahil ilmu-ilmu itu berkembang.
Dalam filsafat terdapat istilah teknis kefilsafatan yang kurang dikenal luas di wilayah keilmuan lain, padahal jika kita mau menela’ahnya istilah itu mudah sekali dipahami. Seperti ontologi, epistemologi, aksiologi dan lain sebagainya. Ontologi adalah dalil keberadaan (ada) nya suatu pentahuan, epistemologi adalah terkait bagaimana pengetahuan itu diperoleh dan aksiologi adalah terkait kegunaan ilmu pengetahuan itu. Istilah kefilsafatan itu kurang dikenal karena sudah dihinggapi asumsi sejak awal filsafat itu ruwet dan ribet.
Jurusan Filsafat yang minim peminat adalah bukti bukan jurusan populis. Mindset mahasiswa kini lebih pragmatis dan realistis. Artinya lebih memilih sesuatu yang dari awal sudah jelas kerjanya, seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi dll. Di sini filsafat masuk –dalam tanda kutip— kategori tidak jelas dari awal. Kaitan ini relevan karena tidak ada lapangan pekerjaan yang secara terang dan tegas menjanjikan lulusan filsafat.
Benar filsafat tidak jelas wujud fisiknya dari awal, namun bukan filsafat tidak penting. Filsafat sejak awal kemunculannya di Yunani menyadarkan manusia pentingnya berpikir kritis. Pecinta kebijaksanaan sebagai landasan filsafat diandaikan jika ingin mengetahui sebuah persoalan, manusia harus bijaksana. Artinya pengetahuan manusia tersebut harus mendalam sampai menyangkut ke akar-akarnya.
Filsafat tidak akan pernah mati dan bahkan tidak akan pernah dianggap tidak ada wujudnya bagi mereka yang mendalami ilmu filsafat dengan baik. Filsafat tetap di jalurnya (on the track) yang membangkitkan kesadaran kritis terhadap ilmu pengetahuan. Bila dihubungkan dengan pekerjaan, filsafat tetap relevan karena memberikan landasan kekritisan karena ditopang penalaran yang benar dan sehat, tak peduli apapun bentuk pekerjaanya.[]

0 comments:
Post a Comment