Siapa guru yang disenangi bocah itu di SD? Dia adalah Ibu Guru dari desa Dalegan, Ibu Tatik namanya. Ibu Tatik yang berambut panjang ini tidak pernah mukul dan selalu senyum, welas asih. Lalu siapa ibu guru yang dihindari di SD? Masih Ibu Guru dari Dalegan juga, Ibu Guru Masroh. Si bocah yang bebal itu selalu “merinding” diajar Bu Masroh karena kerap dipukul kepalanya pakai penggaris kayu gara-gara tidak bisa menyelesaikan soal matematika.
Siang hari sepulang sekolah SD bocah itu langsung masuk Madrasah Ibtidaiyyah (sekolah agama). Pendidikan serba maraton sampai tidak ada waktu istirahat siang. Terkadang si bocah sering cari-cari alasan tidak masuk sekolah. Misal bila tidak disiapkan perlengkapan sepatu alias gak disepatoni, ia mengancam mogok sekolah. Atau kalau memang benar-benar malesnya sudah over, sepulang sekolah SD langsung pergi bermain dan tak kembali ke rumah hingga sore hari.
Waktu itu bagi bocah seumurannya belajar di SD maupun di MI sekolah hanya sekedar rutinitas belaka. Soal rangking tidak pernah dipersoalkan. Sang Ayah hanya marah kalau bocah itu tidak sholat di masjid, atau telat berangkat ke Mushollah untuk mengaji. Apa yang dapat bocah itu katakan tentang masa-masa awal pendidikannya semua berjalan biasa-biasa saja. Kegiatan sekolah di SD dan MI berlalu tanpa ada target yang ingin dicapai dengan sungguh-sungguh.
Giliran masuk MTs Tarbiyatul Wathon juga tidak banyak menjanjikan. Disiplin bocah itu malah longgar, sering telat masuk kelas. Dulu langganan kena strap (kena hukuman) seperti disuruh push up, keliling lapangan sekolah, kadang dicubit, atau dijewer. Di kelas pun ia sering acuh dan senang sekali duduk di belakang. Juga sering pulang sebelum kelas bubar ketika guru berhalangan hadir.
Anehnya di MTs bocah itu mulai jatuh cinta pada mata pelajaran matematika yang dulu amit-amit dibenci setengah mati. Jelas kecintaan pada matematika akibat pengaruh Ibu Dra. Tutik Mahmudah. Kala itu Bu Tutik masih sarjana muda yang baru lulus dari salah satu Universitas ternama di Malang. Dari segi pesona Bu Tutik juga enak dipandang mata (waktu itu).
Bocah itu mengakui Bu Tutik sangat tekun dan sabar mengajar anak didiknya yang bebal, sampai-sampai menyediakan less tambahan di luar jam sekolah formal. Dua hari dalam seminggu bocah itu datang ke Madrasah pukul 16:00 sore untuk mengikuti less gratis Bu Tutik.
Jauh panggang dari api. Meskipun rajin less nasib bocah itu masih bebal menghitung. Nilai matematikanya selama di MTs kurang membanggakan, masih di bawah angka 5. Duh sedihnya. Bocah itu yakin Bu Tutik kecewa dengan angka itu. Tapi apa mau dikata, itu hasil maksimal yang bisa ia usahakan.
Lulus MTs dengan nilai pas-pasan bocah itu tidak pernah menyangka akan ditransfer ke Madura. Kejadiannya begitu cepat dan di luar kendalinya.

0 comments:
Post a Comment