Sejak laptop hilang setahun lalu karena dicuri “pembegal” di kontrakan, jadi tersadarkan pentingnya menyimpan file di hardisk eksternal. Beberapa file penting yang sudah saya himpun ikut hilang. Apa yang hilang tidak dapat diharapkan lagi selain “kenangan.”
Yang saya sayangkan adalah draf buku terjemahan Toha Hussein berjudul “Al-Ayyam.” Buku itu terbit dalam tiga jilid (versi penerbit Darul Ma’arif). Baru satu jilid selesai diterjemahkan, penerjemahan langsung mangkrak (terhenti). Buku itu menarik dibaca sebagai sumber pembelajaran, bagaimana orang buta dengan minat studi luar biasa yang rentan diejek, diremehkan, dan sering menjadi obyek bulling teman-temannya, tiba-tiba tampil mengejutkan.
Di usia belia Toha Hussein yang buta itu sudah hafal al-Qur’an, kemudian menginjak remaja melanjutkan studi di Al-Azhar Kairo. Lembaga pendidikan Al-Azhar di mata penduduk Mesir memiliki “nama” karena dianggap mencetak ulama-ulama penjaga agama. Di Al-Azhar yang tradisionil cara pengajarannya itu tidak berhasil memuaskan dahaga intelektual Toha Hussein, maka ia pun pindah ke kampus sekular, Cairo University, yang lebih modern.
Di kampus Cairo, Toha Hussein menulis risalah tentang syair-syair Abu A’la Al-Ma’arry, filsuf sekaligus sastrawan besar Muslim klasik. Ketika pameran buku di Majlis A’la di Kornes, Kairo, di bulan Ramadhan (th 2009) saya menjumpai risalah Toha Hussein yang memang sudah saya buru. Uraian syair Al-Ma’arry sarat muatan nilai-nilai humanis berhasil dipaparkan Toha Hussein dengan lugas dan tanpa berbelit-belit: hal yang jarang dilakukan penulis Arab lainnya, sebab penulis Arab sering menulis dengan ungkapan-ungkapan panjang dengan nuansa keindahan kata.
Tapi Toha Hussein tidak. Kemungkinan faktor kebutaan membuat Toha Hussein memilih ungkapan singkat dan padat. Tentu Toha Hussein tidak menulis langsung karena tidak bisa melihat alias buta, ia cukup mengutarakan secara verbal pemikiran Al-Ma’arry lalu ditulis salah satu relawan temannya. Di lihat dari sejarahnya figur Abu A’la Al-Ma’arry ternyata juga buta. Kenapa Toha Hussein memilih Al-Ma’arry? Dugaan mengarah karena memiliki persamaan nasib.
Kehebatan Toha Hussein yang patut dikagumi: setelah menyelesaikan risalah Magisternya tentang Al-Ma’arry, ia melanjutkan studi di Universitas Sorbone di Prancis. Siapa tidak tahu Sorbne? Kampus impian intelektual kelas berat. Di sana Toha Hussein menulis risalah Doktoral tentang Filsafat Sosial Ibn Khaldun, kemudian buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh penerjemah kawakan Mesir Abdullah Inani: al-Falsafah al-Ijtima’iyyah Ibn Khaldun. Toha Hussein menulis risalah Doktoralnya di bawah bimbingan sosiolog agama terkemuka, Emil Dhurkeim.
Toha Hussein juga secara tidak sengaja mendapat cintanya di Sorbone. Saya lupa nama istrinya. Tapi ia sangat cantik. Bagaimana orang buta bisa belajar di Sorbone Prancis dan mendapat istri cantik Prancis juga? Akal sehat saya tak kunjung mendapat jawaban. Akan tetapi iman saya memberi penerang: semua itu sudah digariskan Allah.
Dan sepulang dari Prancis, Toha Hussein mengajar di Universitas Kairo. Sang istri selalu menemaninya menyiapkan materi-materi kuliah. Selain karir mulus di kampus, karir di pemerintahan juga sama mulusnya, bahkan cukup bergensi. Ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan Mesir (lupa tahunnya). Gagasan terkenal Toha Hussein saat menjadi Menteri: “pendidikan gratis seperti udara dan air.”
Itu mungkin sisi menarik isi buku Al-Ayyam. Ketika membacanya, buku ini enggan lepas dari tangan. Senang membacanya. Selain kehilangan draft terjemah buku Al-Ayyam, File tesis Arthur Schopenhauer pun ikut raib. Padahal begitu sayang ketika menulisnya, sampai-sampai melewatkan hari-hari di kafe, perpus filsafat, perpus pusat, kamar kontrakan, sampai masuk UGD Bathesda, IGD Panti Rapih, Sardjito akibat serangan asam lambung mendadak: dampak dari telat makan.[]

0 comments:
Post a Comment