Tidak lama setelah kelulusan di Madrasah Tsanawiyyah Tarbiyatul Wathon, bocah itu dipanggil Sang Ayah di ruang tamu dan mengajaknya bicara. Sang Ayah berniat mengirimnya di Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Tidak pakai pertimbangan, besok paginya langsung berangkat ke Madura meski ibu bocah itu menangis berderai-derai.
Dalam hati bocah itu bertanya (protes kecil) mengapa tidak dimondokkan di Tambakberas Jombang saja dengan pertimbangan kakak dan sepupu-sepupunya banyak nyantri di Jombang? Apalagi bocah itu sudah kadung mengidolakan Mbah Wahab Chasbullah! Jawab Sang Ayah simple: biar ada warna, biar tidak di Jombang semua.
Perjalanan ke Pondok Pesantren Al-Amien terasa melelahkan dan panas. Belum lagi di bus terjerat paradoks dimana seharusnya bocah itu terhibur dengan banyaknya penumpang namun kenyataannya malah sepi dan teralienasi. Ia sama sekali binggung mendengar penumpang bicara bahasa Madura sementara dirinya sama sekali tidak paham maksud omongan mereka.
Untung saja yang dialami di bus bukan putus asa berat seperti putus asa tentang pencarian makna hidup ala filsuf eksistensialis Denmark, Søren Kierkegaard. Bagi Kierkegaard, keputusasaan berat yang dihasilkan paradoks kehidupan (tentang makna hidup) dapat berujung kematian, diistilahkan dengan sickness unto death atau “sakit sampai mati.”
Apakah bocah itu terlalu lebay mengaitkan soal paradoks di bus dengan paradoks tentang pencarian makna hidup ala Søren Kierkegaard di atas?

0 comments:
Post a Comment