Pages

Monday, February 23, 2015

Kamus


Genap 3 bulan di Pondok Pesantren Al-Amien bocah itu mulai belajar membaca. Pengalaman itu terbentuk ketika berkunjung ke Bookstore koperasi pondok dan melihat buku fiksi Khalil Gibran. Banyak sekali judul buku sastra Gibran dijual, namun pilihannya jatuh di Sayap-sayap Patah. Selain buku tersebut ia juga membeli beberapa karya Gibran yang entah ia sendiri sudah lupa judul bukunya.

Bahasa tulisan Gibran sastrawi dan melambai-lambai. Awal-awal membaca buku Gibran hati dan pikiran bocah itu terhibur, namun setelah melahap beberapa karya Gibran lagi ia merasa terlalu cenggeng. Bahasanya yang merengek-rengek jelas bukan tipe bocah itu karena suasana hatinya (stemming) sedang bukan dalam kasmaran, tapi tertekan dengan disiplin pondok yang serba ketat.

Akhirnya bocah itu merambah buku yang lebih menantang tentang pemikiran, atau buku-buku ilmiah. Ternyata praandaian bocah itu salah terkait membaca buku ilmiah. Ia pikir membaca buku ilmiah itu semuda buku fiksi atau sastra, justru sebaliknya buku bertendensi ilmiah bahasanya agak berat, belum lagi disisipi istilah ilmiah yang belum populer di otak.

Bocah itu masih ingat dulu membaca buku itu di masjid pondok usai sholat Ashar. Satu paragraf aja ia gak paham maksud tulisannya. Pikiran bocah itu puyeng menyantolkan maksud buku dengan pemahaman di kepala. Satu paragraf saja sudah muter-muter, sampai di paragraf kedua sudah menguap, tiba di paragraf ketiga sudah tak sadarkan diri (tertidur).

Percobaan pertama membaca buku ilmiah gagal tapi bocah itu  tidak putus asa. Besoknya ia berusaha membaca lagi, ternyata untuk mengerti maksud satu paragraf tulisan harus mengerti dulu satu persatu kalimat penyusun paragrafnya. Kali ini bocah itu menyediakan kamus bahasa ilmiah populer (terbitan Apollo Surabaya). Setiap kata yang tidak dipahami segera ia cari arti di kamus tersebut.

Percobaan ini berhasil namun melelahkan karena harus membolak-balik sampai kamus kesayangan lecek. Kamus Ilmiah Populer itu pemberian sahabat karibnya , Sdr. Imron Hamzah, di halaman depan ada tulisan nama Imron Hamzah dan nama bocah itu. Ketika berangkat ke Kairo kamus itu ikut dibawanya lalu hilang karena dipinjam teman tapi tidak dikembalikan.

0 comments: