Pages

Saturday, February 21, 2015

Arena


Meski duduk di kelas B yang kata teman-teman dijuluki kelas khusus (bahkan sebagian menyebut kelas Kopasus), bocah itu tidak merasa sudah menjadi terhebat. Bagaimanapun ia sendirilah yang tahu kemampuan dirinya. Bocah itu merasa masih "kurang" karenanya ia harus belajar lebih banyak dan lebih giat lagi.

Sebagai anak yang baru insaf dari kenakalan, bocah itu lebih banyak menyendiri dan tidak banyak bergaul dengan teman-teman. Tujuannya menyendiri untuk mengakrabi diri sendiri. Dalam kesendirian itu biasanya ia membatin: Siapakah Aku ini? Sungguh waktu itu ia ingin mengenal lebih dalam siapa dirinya sebenarnya.

Apa yang bocah alami ketika itu hampir mirip konsep filsuf Maghrib Ibn Bajah prihal usaha manusia menemukan diriya. Sebagaimana dikatakan Ibn Bajjah dalam Tadbîr al-Mutawahhid, semakin manusia menyadari hakikat dirinya maka tabir pemisah antara dia dan Tuhan-nya tersingkap. Prinsip Ibn Bajjah ini sesungguhnya memiliki korelasi dengan hadits nabi: man `arafa nafsahû faqad `arafa rabbahû.

Kendati sama-sama “menyendiri” antara pengertian bocah itu dan Ibn Bajjah tentu berbeda. Bocah itu menyendiri bukan mencari Allah sebagaimana Ibn Bajjah lakukan, akan tetapi ia menyendiri untuk mengenali dan menggali potensi diri. Potensi itu ingin ia optimalkan untuk tujuan “politis” dan praksis: ia ingin membuktikan kepada teman-teman bahwa ia bisa bersaing.

Sebab di kelas B bocah itu rata-rata dihuni alumnus pesantren salaf yang jago nahwu dan sebagian lagi lulusan SMP N bergengsi. Makanya butuh penerapan strategi untuk memenangkan pertarungan di “arena” persaingan serba ketat itu. Istilah arena sengaja ia (bocah itu) pinjam dari filsuf Prancis Jean Baudrillard. Arena tidak dimaknai dalam olah raga, tapi dalam momentum atau kesempatan kehidupan sehari-hari yang sarat persaingan.

Mengurangi pergaulan di awal-awal adalah jalan terbaik. Sebab kecenderungan santri baru begitu tiba di pondok adalah mencari relasi dan mencari kenalan sebanyak-banyaknya. Sebenarnya itu baik. Namun jika tidak ada kontrol memadai, kenalan terlalu fear dengan banyak santri bisa menjadi boomerang yang merugikan santri itu sendiri. Apa pasal? Hari-hari diisi ngobrol hingga pada titik tertentu terlalu asyik sampai lupa kewajiban belajar.

0 comments: